Sembilan Usulan Indikator untuk Hutan dan Bentang Alam



Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan agenda internasional yang menjadi kelanjutan dari Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Agenda SDG ini dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata. 

Tahun 2014, Kelompok Kerja Terbuka PBB Mengenai SDG telah mendiskusikan tentang peran hutan. Setelah pertemuan berikutnya, negara anggota kelompok kerja menyerahkan perumusan kerangka kerja masa depan yang akan mengganti Tujuan Pembangunan Milenium kepada Sekjen PBB dan sidang umum.

Proses SDG telah secara luas mengkonstruksi kerangka SDG yang terintegrasi secara lebih terencana. Hal ini dapat mendefinisikan tujuan-tujuan dalam lanskap internasional mapan. Namun, jika membahas soal sektor kehutanan, ada tantangan dalam penggunaan batasan tradisional sektoral dalam menjelaskan target dan indikatornya. Oleh karena itu, proses SDG digunakan untuk meningkatkan batas kontribusi sektor dengan isu-isu yang ada.

Perlu untuk mengeksplorasi “Lanskap Berkelanjutan” sebagai sebuah SDG, yang tidak dikuasai sektor manapun, tetapi tetap ada peluang untuk memperkuat kontribusi bagi Pembangunan Berkelanjutan oleh sektor kehutanan, pertanian dan sektor yang lainnya.

Sejalan dengan langkah PBB yang telah bernegosiasi konstruksi SDGs, berikut beberapa kemungkinan indikator lanskap yang dapat dipertimbangkan:

A. Indikator dasar lanskap yang dapat diterapkan di semua skala
  1. Meningkatnya penghidupan lanskap, hal ini diukur dari pemasukan atau aset petani/produsen. 
  2. Meningkatnya jasa lingkungan, hal ini diukur dari stok biomassa di lanskap, termasuk hutan dan tanah. 
  3. Meningkatnya efisiensi sumber daya dalam penggunaan lahan, hal ini diukur dari emisi gas rumah kaca dari sektor yang berbasis lahan. 
  4. Meningkatnya suplai pangan dan produk lain dari penggunaan lahan, hal ini diukur dari kuantitas nilai berdasarkan kategori. 
  5. Meningkatnya potensi keragaman hayati, hal ini diukur dari tipe ekologi area hutan. 

Setiap usulan lima indikator ini dapat diukur dan dibuatkan skala pada berbagai jenis atau ukuran lanskap. Indikator ini dapat diterapkan secara universal di negara maju dan berkembang.

B. Indikator Tata Kelola Lanskap
  1. Kemajuan implementasi, atau kesetaraan dengan, Voluntary Guidelines on Responsible Governance of Tenure yang diajukan oleh Komite Keamanan Pangan Dunia 2012. 
  2. Eksistensi dan implementasi kerangka kerja yang kondusif terhadap kolaborasi lintas sektor dan kebijakan pada tingkat lanskap. 
  3. Kemajuan pelaksanaan dari kesepakatan internasional tentang perburuhan dan ketenagakerjaan sektor kehutanan dan pertanian. 
  4. Tingkat investasi yang ditargetkan untuk pemanfaatan lahan berkelanjutan, yang diukur dari sisi keuangan. 

Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan, mengungkap gagasan yang sama dengan usulan indikator yang tertulis di atas, terkait dengan pertanian berkelanjutan. Beberapa poin yang ada dalam ringkasan SDSN telah sejalan dengan pemikiran lanskap, yang menjawab fungsi lingkungan, sosial dan ekonomi lintas sektor.

Di luar indikator-indikator ini, ada diskusi yang lebih penting mengenai target universal. Target yang dimaksud di sini adalah target yang dapat membantu mengukur kemajuan dan memberi panduan ke pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Tidak hanya melihat lanskap semata, namun ada faktor tambahan yang dapat mempengaruhi lanskap dan kehidupan secara tidak langsung, seperti perdagangan dan pola konsumsi. Lebih jauh lagi, isu utama pembangunan yaitu kemiskinan, keamanan pangan serta nutrisi dan kesehatan, yang tentu saja sangat penting bagi masyarakat dalam lanskap dunia.

Tujuan dari diskusi ini bisa diasumsikan bahwa SDGs akan mengatasi semua faktor yang telah dijelaskan di atas.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBX5A56007801428

Cari Blog Ini

Label

Recent Posts